HikmahPojok Mahasiswa

Murid Alim yang Masuk Jahannam

Guru Besar Fudho’il bin Iyadh adalah ulama’ besar di masanya. Beliau memiliki murid yang sangat alim.

Suatu hari muridnya sedang mengalami sakratul maut. Beliau menemui murid tersebut. Duduk di samping kepala si murid, beliau membacakan surat Yasin. Setelah membaca beberapa ayat, beliau dihentikan oleh muridnya seraya berkata, “Jangan membaca surat itu, saya tidak kuat guru,” serunya.

Syaikh Fudho’il menuruti permintaan muridnya dan mengganti bacaannya dengan men-talqin atau menuntun untuk membaca lafadz syahadatain, tapi si murid berkata, “Saya tidak bisa mengucapkan kalimat itu guru.”

Sedih. Sebagai guru, tentu beliau sangat sedih.

Singkat cerita, si murid meninggal dunia.

Syaikh Fudho’il menangis dan tidak keluar rumah selama 40 hari. Akhirnya beliau bermimpi melihat muridnya diseret malaikat ke dalam neraka Jahannam. Sebelum dilempar kedalam neraka, Syaikh Fudho’il dan muridnya sempat berbincang-bincang.

Beliau bertanya, “Apa yang kau lakukan, sehingga kau bisa seperti ini, sedangkan kau juga termasuk muridku yang paling alim?”

“Saya melakukan 3 perkara sehingga saya menjadi seperti ini, Guru,” jawabnya.

Si murid bercerita bahwa 3 hal tersebut, pertama, adalah namimah. “Saya mengadukan hal yang tak  pernah dilakukan temanku kepadamu, sehingga engkau marah kepada temanku”, tandasnya.

Kedua, hasud. Hati si murid sering tergerogoti oleh rasa hasud yang sangat menyiksa. “Saya tidak suka melihat orang lain diberi kenikmatan, sehingga saya ingin menghilangkan kenikmatan yang diterima temanku,” jelasnya.

Ketiga, minum khamr. Ternyata, selama masa hidupnya, si murid memiliki kebiasaan meneguk minuman yang memabukkan. “Saya mempunyai penyakit, yang mana oleh dokter penyakit itu harus diobati dengan minum khamr minimal 1 tahun sekali.” kilahnya.

Kisah ini menyuguhkan pelajaran kepada kita agar senantiasa hati-hati menjalani kehidupan di dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal saat di hari pengadilan akhirat.

Semoga kita dijadikan orang yang selalu membawa nyala iman, meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah,  dan semoga Allah meridhoi kita untuk masuk ke surge-Nya nanti, bersama para guru, orang tua, keluarga dan orang-orang Islam.  Amiin.

(Disarikan dari penjelasan kitab Irasyâdul Ibâd yang diampu oleh KH. Muntasyar Hasyim)

Hamada Syahrur Ramadhan

Mahasiswa prodi Ekonomi Syariah STEBI Syaikhona Kholil Sidogiri, asal Lumajang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Anda punya KIP Kuliah? Gratis kuliah di STEBI!

Copyright @ STEBI Sidogiri 2020 | Customized by Lingua Karsa
Close
Close